Tundukkanlah Hawa Nafsumu…

Imam Nawawi rahimahullah membawakan sebuah hadits dalam kumpulan hadits Arba’in Nawawiyah dan beliau letakkan hadits tersebut pada urutan ke empat puluh satu.

عن أبي محمد عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم (( لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ )) حديث حسن صحيح رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح.

Dari shahabat Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah beriman (dengan keimanan yang sempurna) salah seorang diantara kalian, sampai hawa nafsunya mengikuti perkara yang aku datang membawa perkara tersebut (Al Quran dan As sunnah).” Imam Nawawi mengatakan : hadits ini adalah hadits hasan shohih, kami meriwayatkannya dalam kitab Al Hujjah dengan sanad yang shohih.

  • Imam Nawawi rahimahullahu menyatakan bahwa derajat hadits ini adalah hadits yang shohih dan beliau rahimahullahu menegaskan dalam kitab “Al Hujjah” tentang shahihnya hadits ini. Kitab “Al Hujjah” yang dimaksud oleh beliau adalah “Al Hujjah ‘ala Tarikil Mahajjah” oleh Syaikh Abul Fathi Nashr ibn Ibrahim Al Maqdisy As Syafi’i. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 723)
  • Meskipun Imam Nawawi rahimahullahu telah menegaskan shahihnya hadits ini, namun hadits ini banyak diperbincangkan oleh para ulama tentang sanad hadits dan keshahihannya. Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullahu mengatakan: “Penilaian shahih terhadap hadits ini, sungguh sangat jauh dari kebenaran.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 724)
  • Ibnu Rajab rahimahullahu menyampaikan beberapa alasan beliau. Diantaranya adalah karena pada sanad hadits ini ada seorang bernama Nu’aim bin Hammad, seorang yang banyak dibicarakan ke-tsiqoh-annya oleh para ulama. Abu Daud mengatakan bahwa Nu’aim telah membawakan sekitar dua puluh hadits yang beliau sandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seluruhnya tidak ada asal usulnya sama sekali. Imam An Nasa’I rahimahullahu mengatakan bahwa orang ini (Nu’aim bin Hammad) adalah orang yang dho’if. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 724) Syaikh Al Albany rahimahullahu pun juga menilai hadits ini sebagai hadits yang dho’if. (Misykatul Mashabih, Al Albany, Maktabah Syamilah, jilid 1, halaman 36)
  • Terlepas dari pembicaraan sanad hadits, makna yang terkandung dalam hadits ini adalah makna yang benar dan makna yang dapat diterima, Insya Allah. (Syarah Al Arba’in Nawawiyah, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Dar Ats Tsuroya An Nasyr, halaman 427)
  • Merupakan sebuah kewajiban seorang yang beriman dengan keimanan sempurna untuk senantiasa menundukkan hawa nafsunya di hadapan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhukum dengan syariat ini dalam seluruh perkara. Hal ini karena syariat Islam adalah syariat yang sempurna, yang menjelaskan seluruh kemashlahatan manusia, baik kehidupan di dunia ataupun di akhirat dengan penjelasan yang gamblang. (Syarah Al Arba’in Nawawiyah, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Dar Ats Tsuroya An Nasyr, halaman 427)
  • Sesungguhnya seorang akan menjadi seorang yang mukmin yang sempurna keimanannya sampai dirinya mencintai syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai perintah-perintah Allah ta’ala dan membenci seluruh larangan-Nya. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 725)
  • Peniadaan iman yang dimaksud dalam hadits ini adalah peniadaan kesempurnaan iman. Karena dimungkinkan hawa nafsu seseorang bisa tunduk terhadap sebagian syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bisa jadi seorang tersebut mendahulukan hawa nafsunya terhadap sebagian syariat yang lain. Maka orang yang demikian, selama perkara tersebut adalah bukan perkara yang dhoruri dalam agama Islam ini, adalah orang yang berkurang kadar kesempurnaan imannya. Adapun orang yang sama sekali tidak menerima seluruh syariat Islam ini, maka orang tersebut adalah orang murtad dan keluar dari Islam. (Syarah Al Arba’in Nawawiyah, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Dar Ats Tsuroya An Nasyr, halaman 427)
  • Hadits ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (Syarah Al Arba’in Nawawiyah, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Dar Ats Tsuroya An Nasyr, halaman 428)
  • Hadits ini menunjukkan larangan untuk fanatik buta terhadap madzhab tertentu, sehingga meninggalkan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang ketika hendak memutuskan atau menghukumi sesuatu, hendaklah dia mendasarinya dengan dalil Al Quran dan As Sunnah, bukan dengan mengedepankan madzhab tertentu dan menjadikan Al Quran dan As Sunnah disesuaikan dengan madzhab dan pemikirannya. (Syarah Al Arba’in Nawawiyah, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Dar Ats Tsuroya An Nasyr, halaman 427)
  • Hadits ini menunjukkan bahwa hawa nafsu manusia terbagi menjadi dua :
  • Hawa nafsu yang mengikuti syariat Islam, dan inilah hawa nafsu yang terpuji.
  • Hawa nafsu yang menyelisihi syariat Islam , inilah hawa nafsu yang tercela.

Namun ketika hawa nafsu disebut tanpa adalah penjelasan, maka yang dimaksud dan yang diinginkan adalah hawa nafsu yang tercela. Demikianlah apa yang ada dalam Al Quran dan As Sunnah.

(Syarah Al Arba’in Nawawiyah, Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Dar Ats Tsuroya An Nasyr, halaman 427)

  • Hadits ini semakna dengan firman Allah ta’ala di dalam surat An Nisa : 65

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabb-mu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, sehingga tidak ada rasa keberatan dalam diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan, dan mereka meneriman dengan sepenuhnya” (An Nisa : 65)

  • Allah ta’ala mencela orang-orang yang membenci apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Allah ta’ala berfirman di dalam surat Muhammad : 9

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian dikarenakan mereka membenci apa yang Allah turunkan, dan yang demikian akan membatalkan amalan mereka” (Muhammad : 9)

  • Merupakan sebuah keutamaan yang luar biasa ketika seorang hamba mencintai apa yang Allah perintahkan bagi dirinya, sehingga dirinya akan bersemangat untuk melaksanakan ibadah tersebut, dan ketika seorang membenci apa yang Allah haramkan bagi dirinya, sampai dirinya menjadi orang yang terjaga dari keharaman-keharaman Allah. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 725)
  • Kecintaan yang sempurna akan melahirkan ketundukan yang sempurna dalam melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah. Sampai-sampai Ruwaim rahimahullahu tatkala ditanya tentang apa makna cinta? Beliau menjawab, cinta adalah kepatuhan dalam seluruh keadaan, kemudian beliau bersyair:

ولو قُلتَ لي مُتْ مِتُّ سَمعاً وطاعةً     وقُلتُ لداعِي الموتِ أهلاً ومرحبا

Seandainya Engkau mengatakan kepada diriku ‘matilah engkau…!’, maka aku pun akan mati dalam keadaan patuh dan taat.

Dan aku katakan kepada yang memerintahkanku untuk mati, ‘selamat datang wahai kematian…’

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 726)

  • Abu Ayub An Nuhjuriy mengatakan sebuah perkataan yang berfaidah :

كلُّ مَنِ ادَّعى محبة الله – عز وجل – ، ولم يوافِقِ الله في أمره ، فدعواه باطلة ، وكلُّ محبٍّ ليس يخاف الله ، فهو مغرورٌ

Setiap orang yang mengaku mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, akan tetapi dia tidak mematuhi Allah dalam urusannya, maka pengakuannya adalah pengakuan yang bathil. Setiap orang yang mengaku mencintai Allah akan tetapi dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka sesungguhnya dia adalah orang yang tertipu.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 726)

  • Pangkal seluruh kemaksiatan adalah mendahulukan hawa nafsu dibandingkan dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Allah ta’ala mensifati keadaan orang musyrik bahwa mereka adalah orang-orang yang menempatkan hawa nafsu mereka di atas syariat Islam (Al Quran dan As Sunnah). Begitu juga dengan pelaku-pelaku bid’ah dan maksiat, sehingga ahlu bid’ah dan ahli maksiat dinamakan juga oleh para ulama sebagai ahlul ahwa’. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hanbali, Dar Ibnul Jauzy, halaman 726). Allah ta’ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan jika mereka tidak memenuhi (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah orang yang lebih sesat dibandingkan orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah, sesungguhnya Allah tidaklah memberi petunjuk bagi orang-orang dholim” (Al Qashash : 50)

***

Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi

(Santri Ma’had Al ‘Ilmi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s