Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam (1)

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberi taufik kepada kita untuk bisa mengenal sunnah dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang telah menjadikan kita sebagai pengikut Rasulullah Al Musthofa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara sunnah dan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khutbah jumat, ceramah pengajian dan nasehat-nasehat beliau kepada para shahabat adalah senantiasa beliau memulai pembicaraan beliau dengan khutbatul hajjah, sebuah khutbah pembukaan yang mengandung makna yang sangat dalam.

Seandainya kita berbicara dan menggali panjang lebar tentang makna yang terkandung dalam khutbatul hajjah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu pembicaraan kita akan terlalu panjang dan meluas. Oleh karenanya kita hanya memilih potongan kalimat dari khutbatul hajjah, yaitu beliau, “khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” (artinya : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ).

[Ittiba’ secara Total kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ]

Faidah dan makna paling agung yang terkandung dalam kalimat “khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah akan semakin mengokohkan pemahaman  yang shohih seorang muslim dalam memahami agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya kitab Al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus” (Al Isra : 9)

Hidayah sunnah merupakan bagian hidayah Al Quran. Al Quran dan As Sunnah bagaikan dua sisi uang logam, satu dengan lainnya tidak dapat terpisahkan.pent Al Quran telah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Maka seseorang yang memahami makna kalimat khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” tentu akan semakin menambah kecintaan dan penganggungannya kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan akan semakin memperlihatkan pengaruh ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam diri seseorang ataupun dalam suatu komunitas masyarakat.

Dari kalimat yang singkat ini pula, seorang muslim akan dapat memperlakukan manusia sebagaimana mestinya, membebaskan seorang muslim dari taqlid buta terhadap person-person tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami agama Allah subhaanahu wa ta’ala .

Imam Malik rahimahullahu pernah berkata di sisi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ما من أحد إلا يؤخذ من قوله ويرد إلا قول صاحب هذا القبر

Tidaklah ada seorang pun melainkan perkataannya bisa jadi diterima atau ditolak, kecuali perkataan pemilik kuburan ini (yaitu : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam )”

[Pondasi Agama adalah Ikhlas dan Ittiba’]

Perintah ikhlas, Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Dan tidaklah mereka diperintah melainkan agar mereka beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama kepada-Nya dalam jalan yang lurus, dan agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, demikianlah agama yang lurus.” (Al Bayinah : 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya, dan setiap manusia akan dibalas sesuai dengan apa yang niatkan, barangsiapa yang berhijroh ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrohnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijroh kepada dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrohnya adalah kepada apa yang dia inginkan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Umar bin Khattab)

Sedangkan untuk perintah ittiba’, Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah, ketika menyeru kalian kepada apa yang dapat memberikan kehidupan bagi kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Al Anfaal : 24)

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Tidak, Demi Tuhanmu, mereka tidak lah beriman sampai mereka menjadikan dirimu hakim (pemutus perkara) dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, dan mereka tidak menemukan sedikitpun rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan, dan mereka berserah diri dengan sebenar-benarnya” ( An Nisaa : 65 )

Ayat-ayat di atas dan ayat semisalnya adalah bukti bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini semakin mewajibkan kita untuk senantiasa taat kepada Rasul, berpegang teguh dengan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Kunci Hidayah]

Allah ta’ala berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa mentaati Rasul, maka sungguh dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai penjaga bagi mereka” (An Nisaa : 80)

Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Jika kalian mentaatinya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka kalian akan mendapatkan petunjuk” (An Nur : 54)

Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kunci dari pintu hidayah Allah ta’ala. Apalah guna kita melirik kepada perkataan si fulan, si ‘alaan, ataupun siapapun di sekitar kita, jika telah ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada perkataan manusia yang lebih agung daripada perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Syafi’i rahimahullahu berkata,

وخير الأمور السالفة علي الهدي

و شرّ الأمور المحدثة بدائع

“Sebaik-baik perkara adalah apa yang sudah ada petunjuknya dari para pendahulu

dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan”

Imam Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan,

العلم ما قد كان فيه قال حدثنا

وما سوي ذاك وسواس الشياطين

“Ilmu adalah apa yang di dalamnya di sebutkan ‘hadatsana’

dan yang selain itu adalah was-was dari syaitan”

Tentang kewajiban ittiba’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yag beramal dengan suatu amalan yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka amalan tersebut akan tertolak” (Muttafaqun’alaihi, dari shahabat ‘Aisyah)

Imam Malik bin Annas rahimahullahu,

السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“As sunnah adalah bagaikan perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka akan selamat, dan barangsiapa yang berpaling darinya maka akan tenggelam”

[Lihatlah Generasi Shahabat… Bagaimana Mereka Mengagungkan Sunnah]

Para shahabat adalah orang terdekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat mengagungkan sunnah dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita melihat bagaimana para shahabat menerima dengan dada yang lapang, terhadap apa yang diperintahkan dan yang dilarang oleh beliau.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shahabat untuk melakukan sebuah perkara mu’amalat jahiliyah, yang sebenarnya mu’amalat tersebut memberikan keuntungan bagi para shahabat. Namun meskipun demikian seorang shahabat Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَوَاعِيَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kita dari suatu perkara yang sebenarnya mendatangkan keuntungan bagi diri kita, namun sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah lebih menguntungkan bagi kita.” (Hadits riwayat Muslim dari shahabat Rafi’ bin Khadij)

Demikianlah gambaran bagaimana para shahabat menerima perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah salah satu kisah dari sekian banyak kisah shahabat yang menunjukkan bagaiamana pasrahnya mereka terhadap perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.pent Mereka mendahulukan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segala macam kebiasaan, hawa nafsu dan keuntungan duniawi. Demikian pula seharusnya kita…

Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam…

(bersambung, Insya Allah)

***

Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al Halaby Al Atsary –حفظه الله تعالى

(diterjemahkan secara ringkas dari ceramah beliau yang berjudul “Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam”)

Salatiga, 5 Syawal 1431 (14 September 2010)

Penterjemah :

Hamba yang lemah,

-Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s