Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam (2)

Alhamdulilah, washolatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa man waalahu….

Apabila kita memaknai kalimat syahadat Asyhadu an Laa ilaha illallahu, dengan makna “Laa ma’buda bi haqin illa allahu” (Tidak ada sesembahan yang berhaq di sembah dengan benar kecuali Allah), maka kita pun juga memaknai kalimat “Asyahadu anna Muhammadan Rasulullah” dengan makna “Laa matbu’a bi haqin illa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tidak ada sesuatu yang berhaq diikuti secara total/mutlaq kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ).

Tidaklah kita mendahulukan perkataan seseorang di atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun dia adalah seorang imam, syaikh kibar, wali ataupun julukan-julukan lainnya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan (kepada Allah), sesungguhnya ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf” (Hadits riwayat Bukhory, dari shahabat Ali bin Abi Tholib)

[Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Adalah Wahyu dari Allah]

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tidaklah dia (Muhammad) mengatakan sesuatu dari hawa nafsunya, melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepada dirinya” (An Najm : 3-4)

Apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kebenaran yang muthlak, tidak diragukan lagi. Suatu ketika shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

يا رسول الله أكتب عنك ما سمعت ؟ قال : نعم قلت : في الغضب و الرضى ؟ قال : نعم فإنه لا ينبغي لي أن أقول في ذلك إلا حقا

“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah aku harus mencatat apa yang aku dengar dari dirimu? Beliau mengatakan, Iya. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan, Apakah selurunya aku catat baik engkau dalam keadaan marah ataupun ridha? Beliau mengatakan, Iya, karena sesungguhnya tidak layak bagiku untuk mengatakan sesuatu melainkan mengatakan hanya kebenaran” (Lihat shahih Ibnu Khuzaimah, Syaikh Al Albani menilai hadits ini hasan)

[Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Lahir dan Batin]

Ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun perlu dicermati bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas seseorang memajangkan jenggotnya, lalu dia kenakan jubah panjang di atas mata kaki dan memakai tutup kepala. Memang benar bahwa diantara perkara-perkara yang kami sebutkan tadi sebagiannya adalah perkara wajib, namun perlu dipahami bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meliputi aspek lahir dan batin.

Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam perkara aqidah, akhlak, mu’amalaat maupun dalam perkara ibadah. Tidak kita katakan, ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebagian perkara, namun ternyata meninggalkan ittiba’ dalam perkara=perkara yang lainnya. Bahkan mungkin kita meninggalkan perkara yang jauh lebih penting dan lebih utama.

Semisal contoh adalah kewajiban untuk memanjangkan jenggot. Sudah tidak ragu lagi bahwa ini merupakan perkara yang wajib bagi seoarang laki-laki muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot kalian dan pangkaslah kumis-kumis kalian” (Hadits riwayat Bukhori, dari shahabat Abdullah bin Umar)

Bukanlah maksud kami untuk meremehkan dan menganggap kecil kewajiban yang satu ini. Namun yang menjadi masalah adalah jika kita semangat dalam memanjangkan jenggot, akan tetapi bersamaan dengan itu kita melalaikan perkara aqidah. Yakni aqidah tauhid yang karena tujuan tersebut lah Allah ta’ala menciptakan manusia dan jin, dan karena itulah Allah mengutus para Rasul-Nya dan Allah  menurunkan kitab-kitab-Nya.

[Tauhid adalah Perkara Awal]

Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, (untuk menyerukan) sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut” (An Nahl : 36)

Demikianlah para rasul terdahulu, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau diutus oleh Allah ke muka bumi ini dalam rangka menegakkan tauhid, menyeru manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan memperingatkan manusia dari kesyirikan.

Allah ta’ala befirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintah, dan aku termasuk orang yang pertama menyerahkan diri” (Al An’aam : 162-163)

Tauhid adalah perkara yang paling penting dan utama dalam agama ini, sedangkan kesyirikan adalah perkara yang paling berbahaya yang mengancam agama ini, baik syirik besar ataupun syikrik kecil. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu sallam berkata kepada para shahabat,

الشِّرْكُ أَخْفَى فِيكُمْ مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، ثُمَّ قَالَ : أَلا أَدُلُّكَ عَلَى مَا يُذْهِبُ عَنْكَ صَغِيرَ ذَلِكَ وَكَبِيرَهُ ؟ قُلِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لا أَعْلَمُ

“Kesyirikan itu lebih samar daripada jejak semut, kemudian Rasul bersabda, maukah kalian aku kabarkan bagaimana cara membebaskan diri dari syirik besar dan syirik kecil? Katakanlah (berdoa kepada Allah), ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesyirikan yang aku ketahui (sadari), dan aku memohon ampun atas kesyirikan-kesyirikan yang aku tidak mengetahuinya” (lihat jami’us shoghir, dishohihkan oleh Syaikh Al Albany, Asy Syamilah)

Lihatlah bagaimana upaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga para shahabat dari bahaya kesyirikan, baik syirik kecik ataupun syirik besar…

[Ittiba’ dalam perkara Akhlak]

Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga mencakup ke dalam perkara akhlak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah engkau kepada Allah dimana pun engkau berada, ikutilah keburukan (yang telah engkau perbuat) dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus (kejelekan tersebut), dan berakhlaklah engkau kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Mu’adz bin Jabal)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para shahabat,

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ, . قَالُوا وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ, يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أَمَّهُ فَيَسُبُّ أَمَّهُ

“Sesungguhnya diantara dosa yang paling besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya sendiri”, para shahabat lantas bertanya, “Bagaimana kok bisa seseorang mencela orang tuanya sendiri???”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang mencela ayah orang lain, maka kemudian orang lain tersebut ganti mencela ayahnya, dan seseorang mencela ibu orang lain, maka kemudian orang lain tersebut ganti mencela ibunya” (Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

Ini merupakan salah satu pintu dari syaitan untuk menggelincirkan manusia, yaitu menjadikan celaan kepada orang tua orang lain sebagai wasilah celaan kepada orang tuanya sendiri secara tidak langsung. Lantas bagaimanakah apabila kita secara langsung mencela orang-orang terdekat dengan kita??? Bagaimanakah jika kita langsung mencela tetangga kita dan saudara kita?

[Diantara Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Menghormati Tetangga]

Dalam musnad Imam Ahmad, terdapat kisah tantang seorang  shahabat yang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shahabat tersebut mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَذْكُرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِى جِيرَانَهاَ بِلِسَانِهَا قَالَ « هِىَ فِى النَّارِ »

“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ada seoarang wanita yang terkenal dengan banyaknya sholat malam yang dia kerjakan, banyaknya puasa dan banyaknya sedekah yang dia infakkan, akan tetapi dia sering mengganggu tetangganya dengan lisannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia di neraka”(Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Abu Hurairah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ

“Semoga Allah melaknat orang yang merubah batas-batas tanah (milik tetangganya)” (Hadits riwayat Muslim, dari shahabat Ali bin Abi Thalib)

Orang yang dengan sengaja menggeser batas-batas antara tanah milik tetangga dengan tanahnya adalah orang yang terlaknat oleh Allah ta’ala. Karena ini merupakan sebuah kedzaliman. Jika ini merupakan tindakan dzalim dalam urusan tanah seseorang, lantas bagaimanakah jika kedzaliman tersebut berkaitan dengan perkara kehormatan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن أربى الربا استطالة المرء في عرض أخيه المسلم

“Sesungguhnya riba yang paling berat adalah merendahkan kehormatan seseorang muslim” (Hadits riwayat Baihaqi, dari shahabat Abu Hurairah)

Riba merupakan dosa besar, namun dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan ada dosa riba yang paling besar, yakni merendahkan kehormatan saudaranya sesama muslim, baik dengan ghibah ataupun namimah. Nas’alullaha al ‘afiyah..

(bersambung Insya Allah…)

Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al Halaby Al Atsary –حفظه الله تعالى

(diterjemahkan secara ringkas dari ceramah beliau yang berjudul “Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam”)

***

Salatiga, 6 Syawal 1431 H (15 September 2010)

Al Faqir ila maghfiratillah, Abu Fauzan Hanif NF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s