Saudaraku… Apa yang Anda Cari…?

“Iya…kami memang bukan siapa-siapa. Kami bukanlah seorang yang berilmu, bukan pula seorang ustadz. Bahkan Anda mungkin jauh lebih berilmu dibandingkan kami, jauh lebih bertaqwa dibandingkan kami…Namun izinkanlah kami menyampaikan yang sedikit ini, sebuah nasehat bagi diri kami sendiri… Semoga saja bisa diambil manfaatnya…”


Mensyukuri Nikmat Allah Ta’ala..

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini. Kita bisa menjadi diri kita seperti saat, tidak lain adalah semata-mata karena nikmat dan pemberian dari Sang Pencipta, Allah Ta’ala. Betapa nikmat Allah Ta’ala memenuhi diri kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Jika engkau ingin menghitung nikmat Allah, niscaya Engkau tidak akan bisa, Dan sungguh manusia sangat dzalim dan ingkar” (QS. Ibrahim: 34)

Setiap hari, setiap jam, setiap menit atau bahkan setiap detik, nikmat dan rahmat Allah Ta’ala turun kepada diri kita, meliputi diri kita. Bukankah oksigen yang kita selalu bernafas dengannya, selalu kita dapatkan secara cuma-cuma? Jantung kita bisa berdetak, mengirimkan darah ke seluruh badan kita, pembuluh darah kita, paru-paru, ginjal dan yang lain sebagainya, bukankah itu semuanya bekerja tanpa kehendak kita? Siapakah yang menggerakkan itu semua untuk kita… Ini merupakan karunia dari Allah Ta’ala.

Saudaraku…pernahkah kita menyadari ada kenikmatana yang jauuuuh lebih besar dari itu semua, yaitu kenikmatan seorang manusia diberi taufiq oleh Allah, sehingga bisa merasakan lezatnya keimanan kepada Allah, bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah Ta’ala. Sungguh inilah sebesar-besar kenikmatan. Karena hanya dengan inilah manusia bisa bahagia di dunia dan di akhirat.

Sudahkah kita mensyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut… atau justru kita selama ini tidak sadar bahwa itu semua datang dari Allah Ta’ala… Inilah sebab mengapa Allah menutup ayat di atas dengan firman-Nya (yang artinya) : “Dan sungguh manusia sangat dzalim dan ingkar”. Manusia sering kali lalai dan lupa bersyukur kepada Dzat Yang Maha Pengasih, Allah subhaanahu wa ta’ala.

Kemanakah Arah Perjalanan Hidup Ini…?

Saudaraku…Sudah lama ya rasanya kita hidup di muka bumi ini. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Bahkan ada di antara kita yang justru merayakan penambahan usianya dengan acara pesta hura-hura, tiup lilin, acara senang-senang dan lain sebagainya.

Pernahkah kita menyadari bahwa semakin bertambah usia kita semakin berkurang pula jatah waktu kita hidup di dunia ini, dan dengan itu semakin kita mendekati hari-hari perpisahan dengan dunia ini. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hari-hari dunia ini semakin lama semakin meninggalkan kita. Hari-hari akhirat semakin lama semakin menanti di hadapan kita, setiap darinya memiliki anak, maka jadilah engkau anak-anak akhiratdan jangan menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini adalah hari beramal dan tidak ada penghisaban, dan besok (hari kiamat) adalah hari penghisaban dan tidak ada lagi hari beramal” (HR. Bukhari)

Sadarilah, bahwa tidak mungkin kita akan tinggal selama-lamanya di muka bumi ini. Lihatlah di sekeliling kita, satu persatu orang-orang terdekat kita meninggalkan diri kita. Sudah sering kita mendengar berita lelayu, si A telah meninggal dunia, si B telah meninggal dunia. Namun sungguh sangat sedikit di antara kita yang bisa mengambil pelajaran dari itu semua.

Allah Ta’ala telah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan menjumpai kematian” (QS. Ali Imran : 185)

Marilah kita renungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusan ku dengan dunia ini? Sesungguhnya permisalanku dengan dunia adalah bagaikan seorang penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian beristirahat di sana, kemudian dia  pergi meninggalkan pohon tersebut.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga telah bersabda,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau adalah seorang asing atau seperti orang yang sedang menempuh perjalanan”(HR. Bukhari)

Saudaraku…

Seluruh alam ini berjalan menuju Allah Ta’ala… Semua manusia akan menghadap Allah Ta’ala…

Di dunia ini kita hanya singgah… singgah hanya tuk waktu yang sementara…

Bukan di sini kampung dan negri kita… dunia ini hanya sementara…

Akhirat adalah kekal selama-lamanya… itulah kampung kita, kampung akhirat…

Apakah kita akan mati-matian mengejar yang sementara, sedangkan kita lalai dengan yang selama-lamanya?

Jika iya…Sungguh betapa malangnya diri kita…

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Dari Ibnu Umar, dia berkata, ‘Aku bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada beliau, kemudian mengucapkan salam kepada beliau, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ Dia berkata lagi, ‘Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.’” (HR. Ibnu Majah)

Berbekallah… dengan Ilmu yang Bermanfaat dan Amalan Sholeh…

Seluruh perbendaharaan dunia ini akan kita tinggal. Sebanyak apapun… Lihatlah Qarun… Siapakah diantara kita yang lebih kaya dibandingkan Qarun… Bermanfaatkah seluruh hartanya itu bagi dirinya… Lihatlah Firaun… orang yang paling berkuasa di zamannya… manusia di zaman itu tunduk kepada setiap perintahnya… yang dengan kesombongan dan keangkuhannya dia peritahkan manusia untuk menyembah dirinya… Bermanfaatkah kekuasaan itu bagi dirinya… Tidakkah kita bisa mengambil pelajaran…???

Sungguh… Tidak ada yang bemanfaat bagi kehidupan akhirat kita melainkan ilmu dan amal sholeh.

Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ  وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ  وَلَن يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Munafiqun: 9-11).

Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba. (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)

Sebelum datang waktu kematian diri kita… sebelum datang waktu penyesalan… hari-hari akhirat… itulah hari yang tidak lagi bermanfaat seluruh harta dan anak keturunan…

Selagi Allah masih berikan kesempatan bagi diri kita… kita perbanyak bekal untuk hari-hari yang kekal…dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan sholeh…

Kembalilah ke jalan Allah Ta’ala… jika hari-hari kita yang telah lalu dipenuhi dosa dan kesalahan… biarlah itu semuanya berlalu… kita bertaubat kepada Allah atas semua itu… Masih ada kesempatan wahai saudaraku…

Kita tatap sisa usia kita dengan ketaatan kepada Allah… Dia-lah Dzat Yang Maha Pengampun dan Penyayang… Mengampuni setiap dosa kesalahan anak manusia… Menyayangi setiap setiap hamba-Nya yang mau bertaubat kepada-Nya…

Jadikanlah dunia ini sebagai tampat menanam… Menanam tanaman amal… yang kelak akan tiba waktu petik… dan nasib setiap orang akan tergantung dengan buah yang dia petik..

Bukanlah kami merasa sok suci dengan tulisan ini… kami sama dengan Anda wahai saudaraku.. atau bahkan Anda jauh lebih baik dari kami.. kita sama…. sama-sama berjalan menuju Allah… Tulisan ini adalah untuk kami sendiri… namun barangkali dan siapa tahu bisa Anda ambil manfaatnya…

Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad

[hnf – Buletin Taushiyah, Al Mustaqim, SKI Teknik Kimia, UGM]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s