Sekali Lagi… Saudaraku Kemanakah Dirimu yang Dahulu…??!!

jama

“Boleh jadi seseorang merasa bahwa dirinya adalah seorang yang baik untuk saat ini, komitmen terhadap sunnah Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sekarang ini. Namun bisakah dirinya menjamin bahwa dirinya akan terus seperti itu hingga ketetapan ajal mendatanginya. Renungkanlah wahai saudaraku…”

Saudaraku, mengapa saat ini dirimu seperti ini…?

Sebuah kisah nyata telah disaksikan oleh kedua mata ini. Sebuah kenyataan telah terdengar langsung oleh kedua telinga ini. Tersebut seorang pemuda, mahasiswa yang dahulu semangat menuntut ilmu agama, melazimi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ujung bawah celana di atas kedua mata kaki, berjenggot walaupun memang jenggotnya tumbuh tidak lebat. Dirinya adalah seorang panitia kajian-kajian sunnah yang terselenggara. Subhaanallah

Namun, beberapa waktu silam, bertemu dengannya, bukanlah rasa rindu yang muncul dalam hati ini. Rasa rindu yang tertumpuk, semuanya luluh sudah karena melihat keadaan yang ada. Semua rindu berganti menjadi kekecewaan, kesedihan bercampur dengan ketidakpercayaan. Saudaraku yang dahulu berubah menjadi seperti ini…?!! Celana mulai menyapu bumi, jenggot entah kemana, di kajian juga jarang sekali terlihat, tidak pernah tampak lagi mengurus dakwah. Kemanakah semangat yang menggebu yang dahulu.

Aku merasa aneh dan aku bertanya dalam hati, kemanakah dirimu yang dahulu wahai saudaraku…? Sedahsyat ini kah fitnah yang ada…??!! Allahul musta’an wa nas’aluhu assalaamah wal aafiyah.

Dunia ini sungguh cepat merubah seseorang, baik syubhatnya ataupun syahwatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا وَيُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ أَحَدُهُمْ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah beramal sholeh sebelum datangnya fitnah. Fitnah yang bagaikan potongan malam yang gelap. Fitnah yang bisa membuat seorang yang beriman di pagi hari menjadi kafir di sore harinya, atau seorang yang beriman di sore hari menjadi kafir di pagi hari. Dia rela menukar agamanya dengan sedikit perbendaharaan dunia.” (hadits riwayat Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah)

Saudaraku, memang saya belum merasakan apa yang menimpa dirimu. Entah apa yang menimpa dirimu di luar sana… Saya pun kurang mengerti… Saya pun juga tidak bisa menjamin bahwa diri ini akan selamat dari apa yang menimpa dirimu… hanya kepada Allah kita berlindung dari segala macam keburukan….di dunia dan akhirat…

Saudaraku, izinkanlah aku menulis sebuah tulisan, sebuah tulisan yang tidak terlalu panjang dan isinya pun mungkin sudah sering engkau dengarkan… Besar harapan ku engkau tidak bosan… Besar harapanku di dalam hatimu masih tertanam cahaya iman… Cahaya keimanan yang membuat manusia menerima setiap peringatan… Saudaraku, dengarkanlah Allah Ta’ala telah berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

 “Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi mereka orang-orang yang beriman” (QS. Adz Dzariyat : 55)

 

Sungguh betapa sayang Allah Ta’ala kepada kita…

Allah telah mengenalkan dan mengilhamkan hidayah sunnah ini di dalam dada…

Sementara sangat banyak orang yang tidak mendapatkannya…

Sampai seorang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak kuasa mengilhamkan hidayah Islam ke dalam hati pamannya…  

Akankah kita buang kesempatan ini sia-sia…

Tidak wahai saudaraku, kita harus pertahankan semua ini hingga kita berpisah dengan dunia…

 

Al Istiqomah

Istiqomah sebuah kata yang ringkas, sarat makna dan mengandung keutamaan yang sangat  agung, namun sangat berat dipraktekkan. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (13) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (14)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah dengan perkataannya tersebut, maka tidak ada ketakutan bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itulah para penduduk surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS. Al Ahqaaf : 13 – 14)

Di dalam ayat di atas, yang dimaksud dengan “tidak ada ketakutan bagi mereka” adalah rasa kekhawatiran terhadap perkara-perkara buruk yang akan datang di kemudian hari. Sedangkan yang dimaksud dengan “tidak pula mereka bersedih hati” adalah  kesedihan terhadap keburukan yang terjadi di masa-masa yang lalu. (Taisir Karimirrahman, Syaikh As Sa’diy)

Seorang shahabat Rasulullah, bernama Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ

Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya sebuah perkataan dalam ajaran agama Islam yang aku tidak akan bertanya lagi kepada selain engkau”.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Katakanlah : Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah di atas perkataan tersebut” (hadits riwayat Muslim, dalam Kitabul Iman)

Istiqomah adalah senantiasa menempuh jalan yang lurus. Inilah jalan agama Allah, tidak berpaling ke kanan ataupun ke kiri. Istiqomah dicerminkan dengan senantiasa melakukan berbagai ketaatan kepada Allah dan meninggalkan berbagai larangan-larangan-Nya (Lihat Riyadhus Shalaihin dan Jami’ul ‘Ulum wal Hikam). Besarnya ganjaran yang Allah janjikan bagi orang-orang yang mampu istiqomah, menunjukkan betapa sulitnya orang mempraktekkan nilai istiqomah di dalam setiap waktu dalam hidupnya.

Allah ta’ala akan Menjaga Hamba-nya yang Ikhlas

Allah ta’ala tidak akan mendzalimi hamba-Nya sedikit pun. Balasan bagi orang yang berbuat kebaikan adalah kebaikan setelahnya dan balasan orang yang berbuat keburukan adalah keburukan yang setelahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi, menyampaikan firman Allah Ta’ala,

يا عبادي  إنَّما هِيَ أَعمالُكُم أُحْصِيها لَكُمْ ، ثمَّ أُوفِّيكُم إيَّاها ، فَمَنْ وجَدَ خَيراً ، فليَحْمَدِ الله ، ومَنْ وَجَد غيرَ ذلكَ ، فَلا يَلومَنَّ إلاَّ نَفسَه

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya itu lah amalan-amalan kalian. Aku mencatat semuanya untuk kalian, kemudian Aku lah yang akan memberikan balasannya. Barang siapa yang mendapatkan balasan dari Allah berupa kebaikan, maka hendaklah dia memuji dan bersyukur kepada Allah. Dan barang siapa yang mendapatkan balasan selain dari itu (yaitu berupa keburukan), maka janganlah sekali-kali dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (hadits riwayat Muslim)

Barangsiapa yang menjumpai balasan dari Allah atas amalan-amalan yang dia kerjakan adalah keburukan, hendaklah dirinya mengkoreksi apa yang salah dari amalan yang dia kerjakan. Jujurlah pada diri sendiri. Dakwah yang selama ini dia berjuang di atasnya, hafalan Al Quran yang selama ini dia rutinkan setiap ba’da sholat fardhu, sholat sunnah yang selama ini dia tegakkan, artikel-artikel Islam yang selama ini dia tulis kemudian disebarkan kepada kaum muslimin, benarkah semuanya ikhlas karena Allah subhaanahu wa ta’ala. Jujurlah wahai saudaraku, diri ini terlalu kasihan untuk terus dibohongi….

Allah akan terus menjaga orang-orang yang benar-benar dengan ikhlas menjaga Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu,

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Wahai anak kecil, sungguh aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa hal, Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah akan menjaga dirimu, Jagalah Allah, niscaya engkau akan temui Dia di hadapanmu ” (hadits riwayat Tirmidzi)

Renungan ….bagaimanakah akhir kehidupan kita…?

Kata orang, lebih baik menjadi mantan preman dari pada mantan penuntut ilmu. Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan akhirnya” (hadits riwayat Bukhari). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

… Sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian, yang dia beramal dengan amalan penduduk surga, sampai jarak orang tersebut dengan surga Allah mencapai satu jengkal saja. Akan tetapi ketetapan Allah telah mendahuluinya. Kemudian dia beramal dengan amalan penduduk neraka, kemudian dia masuk neraka. Dan sungguh ada salah seorang di antara kalian yang dia beramal dengan amalan penduduk neraka, sampai jarak orang tersebut dengan neraka Allah hanya mencapai satu jengkal saja. Akan tetapi ketetapan Allah telah mendahuluinya. Kemudian dia beramal dengan amalan penduduk surga, kemudian dia masuk ke dalam surga Allah…” (hadits riwayat Bukhari – Muslim)

Siapa yang bisa menjamin diri kita ini akan terus berada di atas jalan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir kehidupan kita. Sementara kita tidak tahu kapankan kita mengakhiri kehidupan ini.

Para ulama salafush sholeh, dengan kebesaran dan keutamaan mereka, mereka sangat takut dengan apa yang disebut dengan su’ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk). Salah satunya, telah diriwayatkan bahwa salah seorang shahabat menangis tatkala menjelang kematiannya. Kemudian dia ditanya mengapa engkau menangis. Kemudianshahabat tersebut menjawab, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan ketetapan atas para hamba-Nya, sebagian diantara mereka berada di dalam surga, dan sebagian lainnya di dalam neraka. Sementara aku aku tidak tahu, aku ini termasuk golongan yang mana..???” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Daar Ibnul Jauzi, halaman 116).

Kalau itu yang menjadi kekhwatiran seorang manusia yang utama (salah seorang shahabat), di suatu zaman kehidupan yang utama (zaman hidup para shahabat), lantas bagaimana seharusnya kita bersikap dengan diri yang sangat lemah, di suatu zaman kehidupan yang penuh dengan fitnah…

Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi diri yang sangat lemah ini.

يَامُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ku di atas agama-Mu”

[Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi, mejidpogungraya]

6 thoughts on “Sekali Lagi… Saudaraku Kemanakah Dirimu yang Dahulu…??!!

  1. Ini kisah nyata akhi??
    Apakah ada seorang yg seperti ini, apakah ia benar2 telah mengilmui apa2 yg dia amalkan dulu?
    Wallahul musta’an, berkata ulama as salaf, “barangsiapa yang futur tetapi dia masih tetap di atas sunnah, maka Allah masih melindunginya, tetapi barangsiapa yang futur dalam keadaan ia tanggalkan sunnah demi sunnah maka ia telah binasa.”

  2. tidak cuma dia .tapi akupun begitu saat aku futur dan tak bersemngat lagi justru temna2 aku menghindariku.adilkah inii.mereka tak peduli lagi padakuu

  3. Subhanalloh..semoga kita bisa terhindar dari segala macam fitnah,,hanya kepada Allah lah kita minta pertolongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s