Buah dari Aqidah yang Benar

depositphotos_4848598-Energy-fruit-tree-heart-shape-for-your-design-Segenap Rasul dan Nabi tidaklah diutus oleh Allah subhaanahu wa ta’ala melainkan untuk membenarkan aqidah dan keyakinan umatnya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan tidak lah Kami mengutus seorang Rasul sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya (agar menyeru) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan diri-Ku (Allah), maka hendak lah kalian beribadahlah hanya kepada diri-Ku.” (Al-Anbiya : 25 )

Agama Ini Adalah Nikmat

Lurusnya aqidah dan kokohnya keimanan merupakan kenikmatan Allah yang paling besar. Allah ta’ala berfirman:

أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (1) يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ (2)

Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kalian meminta agar dipersegera datangnya. Maha Suci Allah dari kesyirikan yang mereka lakukan. Allah menurunkan Malaikat dengan membawa wahyu dari perintah Allah kepada para hamba-Nya yang dikehendaki (para Nabi), untuk memperingatkan umatnya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan diri-Ku (Allah), maka hendak lah kalian bertaqwa kepada diri-Ku.” (An Nahl : 1-2 ) Continue reading

Advertisements

Luasnya Makna Ibadah

Muslim Prays Inside Baiturrahman Mosque

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adzariyat : 56)

Syaikh Sholeh Fauzan hafidzahullah menjelaskan, “(di dalam ayat di atas) Allah ta’ala ingin menjelaskan kepada kita mengenai tujuan diciptakankannya jin dan manusia. Tujuannya adalah tujuan tunggal, yaitu beribadah kepada Allah semata. Oleh karenanya, bisa dilihat dalam ayat di atas, bahwa Allah ta’ala menyatakan firman-Nya ini dalam bentuk pembatasan. Tidak ada tujuan lainnya melainkan hanya tujuan ini semata, yaitu ibadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. (lihat I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhiid hal. 25, Syaikh Sholeh Fauzan) 

Jangan Terlalu Sempit Memahami Ibadah

Sebagian orang bertanya dengan maksud meragukan penjelasan ayat di atas. Apa iya kita diciptakan untuk beribadah saja? Lalu apa kita harus sholaaaat terus sepanjang hidup kita? Atau bersujuuud terus melewati hari-hari kita? Continue reading

Kisah Kematian Abu Tholib

Suatu ketika paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Tholib, menjumpai detik-detik menjelang kematiannya. Bersamanya adalah pembesar kafir Quraisy bernama Abu Jahal dan Abdullah Ibnu Abi Umayyah. Kemudian, datang keponakannya yang sangat menginginkannya bisa masuk ke dalam agama Islam , yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya,

يا عم قل لا إله إلا الله كلمة أحاج لك بها عند الله

“Wahai pamanku, Katakanlah “Laa ilaha illallahu”, sebuah kalimat yang akan aku jadikan pembelaan bagimu kelak dihadapan Allah”

(lihatlah sedemikian besar keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keislaman pamannya ini…)

Continue reading

Orang-orang yang Sesat, Hati Mereka Keras..!!!


Allah ta’ala berfirman, mengkhabarkan tentang keadaan orang-orang kafir :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Bukankah mereka berjalan di atas muka bumi, lalu (bukankah) mereka pun memiliki hati yang mereka bisa berpikir dengannya, atau memiliki telinga yang mereka bisa mendengar dengannya. Maka sesungguhnya bukanlah mata mereka yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada” (Al-Hajj : 46)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh Kami telah jadikan banyak dari penghuni neraka Jahanam dari kalangan jin dan manusia, mereka memiliki hati, akan tetapi tidak digunakan untuk memahami, dan mereka memiliki mata, akan tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan mereka pun memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar, mereka bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat, mereka lah orang-orang yang lalai” ( Al A’raaf : 179 )

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مّن بَعْدِ ذلك فَهِىَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu, hati kalian mengeras bagaikan kerasnya batu, bahkan lebih keras lagi (dari batu)” (Al Baqarah : 74) Continue reading

Perbaikilah Hatimu Sebelum yang Lain…


Sah dan tidaknya amalan dhohir seorang hamba, adalah ditentukan dengan benar atau tidaknya apa yang tersembunyi di dalam hati orang tersebut.

Allah ta’ala berfirman :

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Maka apakah orang-orang yang membangun bangunan (masjid) atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya adalah lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh , lalu (bangunan) tersebut roboh bersama dia ke dalam neraka jahannam.”(At Taubah :109) Continue reading

Kehidupan Hati


Sesungguhnya kehidupan yang haqiqi adalah kehidupan yang dirasakan oleh hati seorang hamba, yaitu hati yang senantiasa memenuhi seruan Rabbul ‘Alaamin dan hati yang tunduk dan taat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah, ketika menyeru kalian kepada apa yang dapat memberikan kehidupan bagi kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Al Anfaal : 24)

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang haqiqi, yang akan memberikan manfaat kepada manusia hanyalah kehidupan yang meng-‘ijabah’-i panggilan Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang hatinya tidak memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kehidupan baginya, meskipun dia hidup namun dengan kehidupan yang serupa dengan hidupnya binatang ” (Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 140) Continue reading