Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam (2)

Alhamdulilah, washolatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa man waalahu….

Apabila kita memaknai kalimat syahadat Asyhadu an Laa ilaha illallahu, dengan makna “Laa ma’buda bi haqin illa allahu” (Tidak ada sesembahan yang berhaq di sembah dengan benar kecuali Allah), maka kita pun juga memaknai kalimat “Asyahadu anna Muhammadan Rasulullah” dengan makna “Laa matbu’a bi haqin illa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tidak ada sesuatu yang berhaq diikuti secara total/mutlaq kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ).

Tidaklah kita mendahulukan perkataan seseorang di atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun dia adalah seorang imam, syaikh kibar, wali ataupun julukan-julukan lainnya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan (kepada Allah), sesungguhnya ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf” (Hadits riwayat Bukhory, dari shahabat Ali bin Abi Tholib) Continue reading

Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam (1)

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberi taufik kepada kita untuk bisa mengenal sunnah dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang telah menjadikan kita sebagai pengikut Rasulullah Al Musthofa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara sunnah dan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khutbah jumat, ceramah pengajian dan nasehat-nasehat beliau kepada para shahabat adalah senantiasa beliau memulai pembicaraan beliau dengan khutbatul hajjah, sebuah khutbah pembukaan yang mengandung makna yang sangat dalam. Continue reading

Ma’had MPR 2010-2011 (khusus putra)


(Tahun I) – KHUSUS PUTRA-

  • Waktu Pendidikan SEMESTER 1 :

1o Oktober 2010 – 25 Desember 2010 ( terhitung 11 Pekan )

  • Waktu Pendidikan SEMESTER 2 :

1 Maret 2011 – 27 Mei 2011 (terhitung 13 Pekan)

  • Periode Pendaftaran :

18 September – 1 Oktober 2010

  • Ujian Masuk

2 Oktober 2010 (Gelombang I)

9 Oktober 2010 (Gelombang II)

  • Brifing Awal dan Pengumuman Penerimaan

09.00 – 11.30 / 10 Oktober 2010

  • Waktu dan Tempat Belajar Pelajaran

o   Tempat           : Masjid Pogung Raya

o   Waktu             :

–       Aqidah                   : Malam (Malam Sabtu, Ba’da Isya)

–       Fiqih                        : Malam (Malam Ahad, Ba’da Isya)

–       Bahasa Arab          : Jumat Pagi dan Ahad Pagi

–       Tahsin Quran         : Malam (dibicarakan dengan pengajar)

o   Durasi                         : 75 menit

  • Materi Belajar

o  Aqidah                   : Kitab tauhid Sy. Fauzan (terjemah)

o  Fiqih                       : Tematik

o  Bahasa Arab          : “Nahwu-Sharaf dan Baca Kitab” (2 kali sepekan)

o  Tahsin Quran        : Pedoman Dauroh Al Quran (2 kali sepekan)

  • Biaya

o  Biaya Pendaftaran             : Rp 10.000,- (akan dikembalikan jika tidak lulus ujian)

o  Biaya Pendidikan               : Rp 20.000,- / bulan (tidak termasuk buku panduan)

Contact Person           : 0856 4327 4922 (Hanif Nur Fauzi)

Pendaftaran : via SMS juga bisa

Sihir, dalam Pandangan Al Quran dan As Sunnah

Dunia sihir dan perdukunan telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, mulai dari masyarakat desa hingga menjamah ke daerah kota. Mulai dari sihir pelet, santet, dan “aji-aji” lainnya. Berbagai komentar dan cara pandang pun mulai bermunculan terkait masalah tukang sihir dan ‘antek-antek’-nya. Sebagai seorang muslim, tidaklah kita memandang sesuatu melainkan dengan kaca mata syariat, terlebih dalam perkara-perkara ghaib, seperti sihir dan yang semisalnya. Marilah kita melihat bagaimanakah syariat Islam yang mulia ini memandang dunia sihir dan ‘antek-antek’-nya.
Continue reading

Orang-orang yang Sesat, Hati Mereka Keras..!!!


Allah ta’ala berfirman, mengkhabarkan tentang keadaan orang-orang kafir :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Bukankah mereka berjalan di atas muka bumi, lalu (bukankah) mereka pun memiliki hati yang mereka bisa berpikir dengannya, atau memiliki telinga yang mereka bisa mendengar dengannya. Maka sesungguhnya bukanlah mata mereka yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada” (Al-Hajj : 46)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh Kami telah jadikan banyak dari penghuni neraka Jahanam dari kalangan jin dan manusia, mereka memiliki hati, akan tetapi tidak digunakan untuk memahami, dan mereka memiliki mata, akan tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan mereka pun memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar, mereka bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat, mereka lah orang-orang yang lalai” ( Al A’raaf : 179 )

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مّن بَعْدِ ذلك فَهِىَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً

“Kemudian setelah itu, hati kalian mengeras bagaikan kerasnya batu, bahkan lebih keras lagi (dari batu)” (Al Baqarah : 74) Continue reading

Perbaikilah Hatimu Sebelum yang Lain…


Sah dan tidaknya amalan dhohir seorang hamba, adalah ditentukan dengan benar atau tidaknya apa yang tersembunyi di dalam hati orang tersebut.

Allah ta’ala berfirman :

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Maka apakah orang-orang yang membangun bangunan (masjid) atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya adalah lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh , lalu (bangunan) tersebut roboh bersama dia ke dalam neraka jahannam.”(At Taubah :109) Continue reading

Kehidupan Hati


Sesungguhnya kehidupan yang haqiqi adalah kehidupan yang dirasakan oleh hati seorang hamba, yaitu hati yang senantiasa memenuhi seruan Rabbul ‘Alaamin dan hati yang tunduk dan taat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah, ketika menyeru kalian kepada apa yang dapat memberikan kehidupan bagi kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Al Anfaal : 24)

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang haqiqi, yang akan memberikan manfaat kepada manusia hanyalah kehidupan yang meng-‘ijabah’-i panggilan Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang hatinya tidak memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kehidupan baginya, meskipun dia hidup namun dengan kehidupan yang serupa dengan hidupnya binatang ” (Lihat Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 140) Continue reading

Hati yang Hidup, Hati yang Sakit, dan Hati yang Mati


Ketahuilah saudaraku, bahwa kedudukan hati manusia bertingkat-tingkat, ada hati yang hidup, hati yang mati dan ada hati yang sakit. Allah ta’ala berfirman

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Al An’aam : 122 )

Hati yang hidup adalah hati yang ketika ditawarkan kepadanya kebatilan dan berbagai macam perbuatan keji, maka dengan kesadarannya dia akan menjauh darinya dan membenci perbuatan-perbuatan tersebut, bahkan tidak condong sedikitpun kepadanya.

Berbeda  halnya dengan kondisi hati yang mati. Sesungguhnya hati yang mati tidak akan bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

هلك من لم يكن له قلب يعرف به المعروف والمنكر

“Celakalah bagi mereka yang tidak memiliki hati, yaitu hati yang bisa mengenal manakah kebaikan dan manakah keburukan”

Continue reading